LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
KECEPATAN RESPIRASI
PADA SERANGGA
XI MIA 1
PEMBIMBING : WIWIK QOMARIYAH, S. Pd
NAMA KELOMPOK
TP. 2014/2015
SMA NEGERI 2 LAMONGAN
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya serta karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktikum
biologi ini dengan baik dan tanpa halangan.
Laporan praktikum kimia
ini berisi tentang kecepatan respirasi serangga yang dilaksanakan oleh kelompok
kami dari kelas XI MIA 1 SMA N 2 Lamongan pada tanggal 16 April 2015.
Terselesaikannya
laporan ini tentu tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak
Drs. H. Khuznan M. Z, M. M selaku kepala sekolah SMA N 2 Lamongan yang telah
memberi izin untuk mengadakan praktikum ini guna menambah penegtahuan kami
dalam bidang biologi.
2. Ibu
Wiwik Qomariyah, S. Pd selaku guru pembimbing yang telah memberikan bimbingan
kepada kami, sehingga praktikum dan laporan ini dapat terselesaikan dengan baik
3. Teman-teman
yang telah membantu kami untuk dapat mengerjakan laporan ini dengan baik.
Kami mengharap saran
yang membangun dan dapat menjadikan laporan ini jauh lebih baik lagi. Kami
mohon maaf sedalam-dalamnya atas kesalahan maupun kekurangan dalam penyusunan
laporan ini.
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar .............................................i
Daftar
Isi .............................................ii
I.
PENDAHULUAN
:
1.
Latar
Belakang Masalah
............................................1
2.
Rumusan
Masalah .............................................3
3.
Tujuan
Pengamatan .............................................3
II.
METODE
PENGAMATAN :
1.
Tempat
dan Waktu Pengamatan .............................................4
2.
Alat
dan Bahan .............................................4
3.
Cara
Kerja .............................................6
III.
HASIL
PENGAMATAN :
1.
Tabel
Pengamatan .............................................9
2.
Hasil
Diskusi
..............................................9
IV.
PEMBAHASAN
:
1.
Respirasi
Pada Serangga ............................................11
V.
PENUTUP
:
1.
Kesimpulan
............................................13
Daftar
Pustaka ............................................14
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pernapasan adalah pertukaran gas
yang dibutuhkan untuk metabolism dalam tubuh. Hewan memiliki alat-alat
pernapasan yang berbeda-beda. Mammalia, Reptilia, dan Amphibia memiliki saluran
pernapasan berupa paruparu. Cacing (Annelida) dan Amphibia memiliki kulit yang
berfungsi juga sebagai tempat pertukaran gas. Ikan mengambil oksigen yang
berada di lingkungannya (air) dengan menggunakan sistem insang.
Oksigen dari luar masuk lewat
spirakel. Kemudian udara dari spirakel menuju pembuluh-pembuluh trakea dan
selanjutnya pembuluh trakea bercabang lagi menjadi cabang halus yang disebut trakeolus
sehingga dapat mencapai seluruh jaringan dan alat tubuh bagian dalam.
Trakeolus tidak berlapis kitin, berisi cairan, dan dibentuk oleh sel yang
disebut trakeoblas. Pertukaran gas terjadi antara trakeolus dengan
sel-sel tubuh. Trakeolus ini mempunyai fungsi yang sama dengan kapiler pada
sistem pengangkutan (transportasi) pada vertebrata.
Mekanisme pernapasan pada
serangga adalah sebagai berikut :
Jika otot perut belalang
berkontraksi maka trakea mexrupih sehingga udara kaya CO2 keluar.
Sebaliknya, jika otot perut belalang berelaksasi maka trakea kembali pada
volume semula sehingga tekanan udara menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di
luar sebagai akibatnya udara di luar yang kaya 02 masuk ke trakea.
Sistem trakea berfungsi
mengangkut O2 dan mengedarkannya ke seluruh tubuh, dan sebaliknya
mengangkut C02 basil respirasi untuk dikeluarkan dari tubuh. Dengan
demikian, darah pada serangga hanya berfungsi mengangkut sari makanan dan bukan
untuk mengangkut gas pernapasan.
Di bagian ujung trakeolus
terdapat cairan sehingga udara mudah berdifusi ke jaringan. Pada serangga air
seperti jentik nyamuk udara diperoleh dengan menjulurkan tabung pernapasan ke
perxnukaan air untuk mengambil udara.
Serangga air tertentu mempunyai
gelembung udara sehingga dapat menyelam di air dalam waktu lama. Misalnya,
kepik Notonecta sp. mempunyai gelembung udara di organ yang menyerupai
rambut pada permukaan ventral. Selama menyelam, O2 dalam gelembung
dipindahkan melalui sistem trakea ke sel-sel pernapasan.
Selain itu, ada pula serangga
yang mempunyai insang trakea yang berfungsi menyerap udara dari air, atau
pengambilan udara melalui cabang-cabang halus serupa insang. Selanjutnya dari
cabang halus ini oksigen diedarkan melalui pembuluh trakea.
Fungsi eosin :
Fungsi eosin adalah sebagai indikator oksigen yang
dihirup oleh organisme percobaan (belalang) pada respirometer. Saat belalang
menghirup oksigen maka terjadi penurunan tekanan gas dalam respirometer
sehingga eosin bergerak masuk ke arah respirometer.
Fungsi dari kristal KOH :
Fungsi dari Kristal KOH/NaOH pada percobaan yaitu
sebagai pengikat CO2 agar tekanan dalam respirometer menurun. Jika
tidak diikat maka tekanan parsial gas dalam respirometer akan tetap dan eosin
tidak bisa bergerak. Akibatnya volume oksigen yang dihirup serangga tidak bisa
diukur. Kristal KOH/NaOH dapat mengikat CO2 karena bersifat
higroskopis. Reaksi antara KOH dengan CO2, sebagai berikut:
· KOH + CO2 → KHCO3
· KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2O
Faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi
diantaranya:
· Berat tubuh, Semakin berat tubuh suatu organisme, maka semakin banyak
oksigen yang dibutuhkan dan semakin cepat proses respirasinya.
· Ukuran tubuh, Makin besar ukuran tubuh maka keperluan oksigen makin banyak.
· Kadar O2, Bila kadar oksigen rendah maka frekuensi respirasi
akan meningkat sebagai kompensasi untuk meningkatkan pengambilan oksigen.
· Aktivitas, Makhluk hidup yang melakukan aktivitas memerlukan energi. Jadi
semakin tinggi aktivitasnya, maka semakin banyak kebutuhan energinya, sehingga
pernafasannya semakin cepat.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Berapa kecepatan respirasi pada serangga?
2.
Apa pengaruh berat serangga terhadap laju reaksi respirasi?
1.3 Tujuan Pengamatan
1.
Mengetahui kecepatan respirasi pada serangga.
2.
Mengetahui pengaruh berat serangga terhadap laju
reaksi respirasi.
BAB
II
METODE
PENGAMATAN
2.1
Tempat dan Waktu Pengamatan
Pengamatan
jaringan tumbuhan monokotil dan jaringan tumbuhan dikotil dilakukan di
laboratorium biologi SMA Negeri 2 Lamongan pada
hari Kamis, 16 April 2015.
2.2
Alat
dan Bahan
Alat :
·
Respirometer
Sederhana - Pipet


·
Neraca O’hous
- Kapas
Neraca O’hous
- Kapas
·
Kaca Pembesar -
Spatula
Kaca Pembesar -
Spatula
·
Stopwatch
·
Kamera
·
Alat tulis
Bahan :
·
Serangga (Belalang) -
NaOH
Serangga (Belalang) -
NaOH
·
Eosin
- Plastisin


2.3 Cara Kerja
1.
Mengamati letak spirakel belalang

2.
Menimbang kristal NaOH

3.
Membungkus kristal NaOH menggunakan kapas dan
memasukkannya ke dalam tabung respirometer.

4.
Menimbang belalang yang akan dipakai untuk
praktikum, kemudian memasukkan belalang tersebut ke dalam tabung respirometer.

5.
Menutup respirometer dengan plastisin dan meletakkannya
pada tempat yang datar.

6.
Menutup ujung pipa kapiler dengan jari telunjuk
selama 1-2 menit. Segere setelah ujung jari dilepaskan lalu teteskan eosin
secukupnya pada ujung pipa kapiler berskala dengan menggunakan pipet. Usahakan
cairan eosin menutup ujunng pipa kapiler.


7.
Mengamati perubahan kedudukan eosin setiap 2 menit
pada pipa kapiler berskala. Lalu menghitung jarak yang ditempuh eosin setiap 2
menit.
8.
Menghitung volume oksigen yang dibutuhkan belalang
dalam waktu 10 menit.
9.
Mengulangi cara kerja diatas menggunakan belalang
yang berbeda beratnya.
BAB
III
HASIL
PENGAMATAN
3.1
Tabel Pengamatan
Jenis
serangga
|
Berat
|
Skala
Kedudukan Eosin Tiap 2 menit
|
||||
2
menit
|
4
menit
|
6
menit
|
8
menit
|
10
menit
|
||
Belalang
I
|
0,05
g
|
0,1
|
0,3
|
0,5
|
0,8
|
1,1
|
Belalang
II
|
0,1
g
|
0,3
|
0,9
|
1,1
|
1,3
|
1,6
|
3.2
Hasil Diskusi
Pertanyaan
:
1. Apakah tujuan digunakan NaOH dan
KOHdalam percobaan ?
2. Mengapa pada percobaan terjadi perubahan kedudukan eosin ? jelaskan !
3. Bagaimana perubahan kedudukan eosin pada setiap percobaan ?
4. Adakah hubungan antara berat belalang dengan kebutuhan oksigen ?
5. Apa kesimpulan dari percobaan ini ?
2. Mengapa pada percobaan terjadi perubahan kedudukan eosin ? jelaskan !
3. Bagaimana perubahan kedudukan eosin pada setiap percobaan ?
4. Adakah hubungan antara berat belalang dengan kebutuhan oksigen ?
5. Apa kesimpulan dari percobaan ini ?
Jawaban
1. Tujuan digunakannya Kristal KOH/NaOH pada percobaan yaitu
sebagai pengikat CO2 agar tekanan dalam respirometer menurun. Jika tidak diikat
maka tekanan parsial gas dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak bisa
bergerak. Akibatnya volume oksigen yang dihirup serangga tidak bisa diukur.
Kristal KOH/NaOH dapat mengikat CO2 karena bersifat higroskopis. Reaksi antara
KOH dengan CO2, sebagai berikut:
KOH + CO2 → KHCO3v
(ii) KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2Ov
KOH + CO2 → KHCO3v
(ii) KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2Ov
2. Fungsi
dari eosin itu sendiri adalah sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh
organisme percobaan (belalang) pada respirometer. Jadi pada saat belalang
menghirup oksigen maka terjadi penurunan tekanan gas dalam respirometer
sehingga eosin bergerak masuk ke arah respirometer
3. NaOH
akan terus bergerak mendekati objek atau serangga karena pada saat serangga
bernafas eosin akan tertaik.
4. Ada,
karena semakin berat tubuh suatu organisme, maka semakin banyak oksigen yang
dibutuhkan dan semakin cepat proses respirasinya.
5. Dari
percobaan yang telah kami lakukan dapat kami simpulkan bahwa kristal KOH/NaOH dapat
membantu serangga untuk bernafas dalam dalam tabung yang tertutup rapat.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Respirasi Pada serangga
Praktikum ini menggunakan respirometer
yang befungsi untuk mengukur laju respirasi seraangga yaitu belalang. Berat
belalang merupakan factor utama dalam paktikum ini, sehingga sebelum melakukan
praktikum belalang harus ditimbang terlebih dahulu. Alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah respirometer, eosin, dan NaOH.
Fungsi eosin adalah sebagai
indikator oksigen yang dihirup oleh organisme percobaan (belalang) pada
respirometer. Saat belalang menghirup oksigen maka terjadi penurunan tekanan
gas dalam respirometer sehingga eosin bergerak masuk ke arah respirometer.
Fungsi
dari Kristal KOH/NaOH pada percobaan yaitu sebagai pengikat CO2 agar
tekanan dalam respirometer menurun. Jika tidak diikat maka tekanan parsial gas
dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak bisa bergerak. Akibatnya volume
oksigen yang dihirup serangga tidak bisa diukur. Kristal KOH/NaOH dapat mengikat
CO2 karena bersifat higroskopis. Reaksi antara KOH dengan CO2,
sebagai berikut:
(i)
KOH + CO2 → KHCO3
(ii)
KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2O
Pernafasan pada serangga
dilakukan denga menggunakan sistem trakea. Udara keluar dan masuk tidak melalui
mulut melainkan melalui lubang – lubang sepanjang kedua sisi tubuhnya. Lubang –
lubang pernafasan tersebut dinamakan stigma atau spirakel. Pada masing – masing
ruas tubuh terdapat sepasang stigma, sebuah di sebelah kira dan sebuah lagi di
sebelah kanan. Stigma selalu terbuka dan merupakan lubang menuju ke pembuluh
trakea. Trakea bercabang – cabang sampai ke pembuluh halus yang mencapai
seluruh bagian tubuh. Udara masuk melalui stigma, kemudian menyebar mengikuti
trakea dengan cabang – cabangnya. Jadi, oksigen diedarkan tidan melalui darah
melainkan langsung dari pembuluh trakea ke sel – sel yang ada disekitarnya.
Dengan demikian cairan tubuh serangga (“darah serangga”) tidak berfungsi
mengangkut udara pernafasan tetapi hanya berfungsi mengedarkan sari – sari
makanan dan hormon.
Proses pernafasan serangga
terjadi karena otot – otot yang bergerak secara teratur. Kontraksi otot – otot
tubuh mengakibatkan pembuluh trakea mengembang dan mengempis, sehing udara
keluar dan masuk melalui stigma. Pada saat trakea mengembang, udara masuk
melalui stigma, selanjutnya masuk ke dalam trakea, lalu ke dalam trakeolus dan
akhirnya masuk ke dalam sel – sel tubuh. O2 berdifusi ke dalam sel – sel tubuh.
CO2 hasil pernafaasan dikeluarkan melalui sistem trakea yang akhirnya
dikeluarkan melalui stigma pada waktu trakea mengempis.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
1.
Semakin berat tubuh belalang maka semakin banyak
oksigen yang dibutuhkan dan semakin rendah berat belalang maka semakin sedikir
pula oksigen yang dibutuhkan
2.
Semakin besarukuran tubuh belalang maka semakin cepat
laju proses pernafasannya dan semakin kecil ukuran tubuh belalang maka semakin
lambat pula laju proses pernafasannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Septianing, Rasti. 2014. Panduan Belajar Biologi
Kelas XI. Jakarta Timur:Yudhistira.
nuraininafisah.blogspot.com
http://2.bp.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar