Sabtu, 25 Juni 2016

Laporan Biologi Respirasi



LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
KECEPATAN RESPIRASI
PADA SERANGGA




XI MIA 1
PEMBIMBING              : WIWIK QOMARIYAH, S. Pd
NAMA KELOMPOK




TP. 2014/2015
SMA NEGERI 2 LAMONGAN


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan praktikum biologi ini dengan baik dan tanpa halangan.
Laporan praktikum kimia ini berisi tentang kecepatan respirasi serangga yang dilaksanakan oleh kelompok kami dari kelas XI MIA 1 SMA N 2 Lamongan pada tanggal 16 April 2015.
Terselesaikannya laporan ini tentu tidak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1.      Bapak Drs. H. Khuznan M. Z, M. M selaku kepala sekolah SMA N 2 Lamongan yang telah memberi izin untuk mengadakan praktikum ini guna menambah penegtahuan kami dalam bidang biologi.
2.      Ibu Wiwik Qomariyah, S. Pd selaku guru pembimbing yang telah memberikan bimbingan kepada kami, sehingga praktikum dan laporan ini dapat terselesaikan dengan baik
3.      Teman-teman yang telah membantu kami untuk dapat mengerjakan laporan ini dengan baik.
Kami mengharap saran yang membangun dan dapat menjadikan laporan ini jauh lebih baik lagi. Kami mohon maaf sedalam-dalamnya atas kesalahan maupun kekurangan dalam penyusunan laporan ini.

                                                                       
Penulis


DAFTAR ISI

Kata Pengantar                                                  .............................................i
Daftar Isi                                                           .............................................ii
I.            PENDAHULUAN :
1.      Latar Belakang Masalah                     ............................................1
2.      Rumusan Masalah                               .............................................3
3.      Tujuan Pengamatan                             .............................................3
II.         METODE PENGAMATAN :
1.      Tempat dan Waktu Pengamatan         .............................................4
2.      Alat dan Bahan                                   .............................................4
3.      Cara Kerja                                           .............................................6
III.      HASIL PENGAMATAN :
1.      Tabel Pengamatan                               .............................................9
2.      Hasil Diskusi                                      ..............................................9
IV.      PEMBAHASAN :
1.      Respirasi Pada Serangga                     ............................................11
V.         PENUTUP :
1.      Kesimpulan                                         ............................................13
Daftar Pustaka                                                   ............................................14
 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Pernapasan adalah pertukaran gas yang dibutuhkan untuk metabolism dalam tubuh. Hewan memiliki alat-alat pernapasan yang berbeda-beda. Mammalia, Reptilia, dan Amphibia memiliki saluran pernapasan berupa paruparu. Cacing (Annelida) dan Amphibia memiliki kulit yang berfungsi juga sebagai tempat pertukaran gas. Ikan mengambil oksigen yang berada di lingkungannya (air) dengan menggunakan sistem insang.
Oksigen dari luar masuk lewat spirakel. Kemudian udara dari spirakel menuju pembuluh-pembuluh trakea dan selanjutnya pembuluh trakea bercabang lagi menjadi cabang halus yang disebut trakeolus sehingga dapat mencapai seluruh jaringan dan alat tubuh bagian dalam. Trakeolus tidak berlapis kitin, berisi cairan, dan dibentuk oleh sel yang disebut trakeoblas. Pertukaran gas terjadi antara trakeolus dengan sel-sel tubuh. Trakeolus ini mempunyai fungsi yang sama dengan kapiler pada sistem pengangkutan (transportasi) pada vertebrata.
Mekanisme pernapasan pada serangga adalah sebagai berikut :
Jika otot perut belalang berkontraksi maka trakea mexrupih sehingga udara kaya CO2 keluar. Sebaliknya, jika otot perut belalang berelaksasi maka trakea kembali pada volume semula sehingga tekanan udara menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar sebagai akibatnya udara di luar yang kaya 02 masuk ke trakea.
Sistem trakea berfungsi mengangkut O2 dan mengedarkannya ke seluruh tubuh, dan sebaliknya mengangkut C02 basil respirasi untuk dikeluarkan dari tubuh. Dengan demikian, darah pada serangga hanya berfungsi mengangkut sari makanan dan bukan untuk mengangkut gas pernapasan.
Di bagian ujung trakeolus terdapat cairan sehingga udara mudah berdifusi ke jaringan. Pada serangga air seperti jentik nyamuk udara diperoleh dengan menjulurkan tabung pernapasan ke perxnukaan air untuk mengambil udara.
Serangga air tertentu mempunyai gelembung udara sehingga dapat menyelam di air dalam waktu lama. Misalnya, kepik Notonecta sp. mempunyai gelembung udara di organ yang menyerupai rambut pada permukaan ventral. Selama menyelam, O2 dalam gelembung dipindahkan melalui sistem trakea ke sel-sel pernapasan.
Selain itu, ada pula serangga yang mempunyai insang trakea yang berfungsi menyerap udara dari air, atau pengambilan udara melalui cabang-cabang halus serupa insang. Selanjutnya dari cabang halus ini oksigen diedarkan melalui pembuluh trakea.
Fungsi eosin       :
Fungsi eosin adalah sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh organisme percobaan (belalang) pada respirometer. Saat belalang menghirup oksigen maka terjadi penurunan tekanan gas dalam respirometer sehingga eosin bergerak masuk ke arah respirometer.
Fungsi dari kristal KOH :
Fungsi dari Kristal KOH/NaOH pada percobaan yaitu sebagai pengikat CO2 agar tekanan dalam respirometer menurun. Jika tidak diikat maka tekanan parsial gas dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak bisa bergerak. Akibatnya volume oksigen yang dihirup serangga tidak bisa diukur. Kristal KOH/NaOH dapat mengikat CO2 karena bersifat higroskopis. Reaksi antara KOH dengan CO2, sebagai berikut:
·       KOH + CO2 → KHCO3
·       KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2O
Faktor-faktor yang mempengaruhi respirasi diantaranya:
·       Berat tubuh, Semakin berat tubuh suatu organisme, maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan dan semakin cepat proses respirasinya.
·       Ukuran tubuh, Makin besar ukuran tubuh maka keperluan oksigen makin banyak.
·       Kadar O2, Bila kadar oksigen rendah maka frekuensi respirasi akan meningkat sebagai kompensasi untuk meningkatkan pengambilan oksigen.
·       Aktivitas, Makhluk hidup yang melakukan aktivitas memerlukan energi. Jadi semakin tinggi aktivitasnya, maka semakin banyak kebutuhan energinya, sehingga pernafasannya semakin cepat.
1.2    Rumusan Masalah
1.           Berapa kecepatan respirasi pada serangga?
2.           Apa pengaruh berat serangga terhadap laju reaksi respirasi?
1.3    Tujuan Pengamatan
1.    Mengetahui kecepatan respirasi pada serangga.
2.    Mengetahui pengaruh berat serangga terhadap laju reaksi respirasi.
















BAB II
METODE PENGAMATAN
2.1 Tempat dan Waktu Pengamatan
     Pengamatan jaringan tumbuhan monokotil dan jaringan tumbuhan dikotil dilakukan di laboratorium biologi SMA Negeri 2 Lamongan pada hari Kamis, 16 April 2015.
2.2    Alat dan Bahan
Alat :
·                Respirometer Sederhana                               - Pipet

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlDbWhoFWuErJlMTPeiDFEUd6ubcaGRDKdSiuOplfH0mv9_ZLurtK7O5IjcnVJH1uHU_Y7FSapsH_5EepWRzPq8tU4HHX_36Ng6xOkAhoILOQ4NKcIlOm9JWPSKpkbcXQqvmv46wji_S_R/s1600/gbr+2.jpg

·                Neraca O’hous                                                   - Kapas





·                Kaca Pembesar                                              - Spatula
·                Stopwatch
·                Kamera
·                Alat tulis

Bahan :
·                Serangga (Belalang)                                    - NaOH
·                Eosin                                                            - Plastisin






2.3    Cara Kerja
1.    Mengamati letak spirakel belalang
2.                               Menimbang kristal NaOH





3.    Membungkus kristal NaOH menggunakan kapas dan memasukkannya ke dalam tabung respirometer.
4.    Menimbang belalang yang akan dipakai untuk praktikum, kemudian memasukkan belalang tersebut ke dalam tabung respirometer.







5.    Menutup respirometer dengan plastisin dan meletakkannya pada tempat yang datar.
6.    Menutup ujung pipa kapiler dengan jari telunjuk selama 1-2 menit. Segere setelah ujung jari dilepaskan lalu teteskan eosin secukupnya pada ujung pipa kapiler berskala dengan menggunakan pipet. Usahakan cairan eosin menutup ujunng pipa kapiler.
7.    Mengamati perubahan kedudukan eosin setiap 2 menit pada pipa kapiler berskala. Lalu menghitung jarak yang ditempuh eosin setiap 2 menit.
8.    Menghitung volume oksigen yang dibutuhkan belalang dalam waktu 10 menit.
9.    Mengulangi cara kerja diatas menggunakan belalang yang berbeda beratnya.









BAB III
HASIL PENGAMATAN
3.1    Tabel Pengamatan
Jenis serangga
Berat
Skala Kedudukan Eosin Tiap 2 menit
2 menit
4 menit
6 menit
8 menit
10 menit
Belalang I
0,05 g
0,1
0,3
0,5
0,8
1,1
Belalang II
0,1 g
0,3
0,9
1,1
1,3
1,6

3.2    Hasil Diskusi
Pertanyaan :
1. Apakah tujuan digunakan NaOH dan KOHdalam percobaan ?
2. Mengapa pada percobaan terjadi perubahan kedudukan eosin ? jelaskan !
3. Bagaimana perubahan kedudukan eosin pada setiap percobaan ?
4. Adakah hubungan antara berat belalang dengan kebutuhan oksigen ?
5. Apa kesimpulan dari percobaan ini ?
Jawaban
1.      Tujuan digunakannya Kristal KOH/NaOH pada percobaan yaitu sebagai pengikat CO2 agar tekanan dalam respirometer menurun. Jika tidak diikat maka tekanan parsial gas dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak bisa bergerak. Akibatnya volume oksigen yang dihirup serangga tidak bisa diukur. Kristal KOH/NaOH dapat mengikat CO2 karena bersifat higroskopis. Reaksi antara KOH dengan CO2, sebagai berikut:
 KOH + CO2 → KHCO3v
 (ii) KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2Ov

2. Fungsi dari eosin itu sendiri adalah sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh organisme percobaan (belalang) pada respirometer. Jadi pada saat belalang menghirup oksigen maka terjadi penurunan tekanan gas dalam respirometer sehingga eosin bergerak masuk ke arah respirometer
3. NaOH akan terus bergerak mendekati objek atau serangga karena pada saat serangga bernafas eosin akan tertaik.
4. Ada, karena semakin berat tubuh suatu organisme, maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan dan semakin cepat proses respirasinya.
5. Dari percobaan yang telah kami lakukan dapat kami simpulkan bahwa kristal KOH/NaOH dapat membantu serangga untuk bernafas dalam dalam tabung yang tertutup rapat.










BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Respirasi Pada serangga
Praktikum ini menggunakan respirometer yang befungsi untuk mengukur laju respirasi seraangga yaitu belalang. Berat belalang merupakan factor utama dalam paktikum ini, sehingga sebelum melakukan praktikum belalang harus ditimbang terlebih dahulu. Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah respirometer, eosin, dan NaOH.
            Fungsi eosin adalah sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh organisme percobaan (belalang) pada respirometer. Saat belalang menghirup oksigen maka terjadi penurunan tekanan gas dalam respirometer sehingga eosin bergerak masuk ke arah respirometer.
            Fungsi dari Kristal KOH/NaOH pada percobaan yaitu sebagai pengikat CO2 agar tekanan dalam respirometer menurun. Jika tidak diikat maka tekanan parsial gas dalam respirometer akan tetap dan eosin tidak bisa bergerak. Akibatnya volume oksigen yang dihirup serangga tidak bisa diukur. Kristal KOH/NaOH dapat mengikat CO2 karena bersifat higroskopis. Reaksi antara KOH dengan CO2, sebagai berikut:
         (i) KOH + CO2 → KHCO3
         (ii) KHCO3 + KOH → K2CO3 + H2O
Pernafasan pada serangga dilakukan denga menggunakan sistem trakea. Udara keluar dan masuk tidak melalui mulut melainkan melalui lubang – lubang sepanjang kedua sisi tubuhnya. Lubang – lubang pernafasan tersebut dinamakan stigma atau spirakel. Pada masing – masing ruas tubuh terdapat sepasang stigma, sebuah di sebelah kira dan sebuah lagi di sebelah kanan. Stigma selalu terbuka dan merupakan lubang menuju ke pembuluh trakea. Trakea bercabang – cabang sampai ke pembuluh halus yang mencapai seluruh bagian tubuh. Udara masuk melalui stigma, kemudian menyebar mengikuti trakea dengan cabang – cabangnya. Jadi, oksigen diedarkan tidan melalui darah melainkan langsung dari pembuluh trakea ke sel – sel yang ada disekitarnya. Dengan demikian cairan tubuh serangga (“darah serangga”) tidak berfungsi mengangkut udara pernafasan tetapi hanya berfungsi mengedarkan sari – sari makanan dan hormon.
Proses pernafasan serangga terjadi karena otot – otot yang bergerak secara teratur. Kontraksi otot – otot tubuh mengakibatkan pembuluh trakea mengembang dan mengempis, sehing udara keluar dan masuk melalui stigma. Pada saat trakea mengembang, udara masuk melalui stigma, selanjutnya masuk ke dalam trakea, lalu ke dalam trakeolus dan akhirnya masuk ke dalam sel – sel tubuh. O2 berdifusi ke dalam sel – sel tubuh. CO2 hasil pernafaasan dikeluarkan melalui sistem trakea yang akhirnya dikeluarkan melalui stigma pada waktu trakea mengempis.


















BAB V
PENUTUP

5.1   Kesimpulan
1.      Semakin berat tubuh belalang maka semakin banyak oksigen yang dibutuhkan dan semakin rendah berat belalang maka semakin sedikir pula oksigen yang dibutuhkan
2.      Semakin besarukuran tubuh belalang maka semakin cepat laju proses pernafasannya dan semakin kecil ukuran tubuh belalang maka semakin lambat pula laju proses pernafasannya.















DAFTAR PUSTAKA
Septianing, Rasti. 2014. Panduan Belajar Biologi Kelas XI. Jakarta Timur:Yudhistira.
nuraininafisah.blogspot.com
http://2.bp.blogspot.com/

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar